News 

10 Poin Penting Usulan Bupati Soal Sinergi Pemkab dengan Daops 9

Vice President PT KAI (Kereta Api Indonesia) Daops 9 Jember Joko Widagdo bersama jajarannya menemui Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR. di Pendopo Wahyawibawagraha, untuk membahas pengembangan Stasiun Kerata Api Jember. 

Pertemuan itu diawali dengan penyampaian Joko Widagdo terkait tujuan kunjungannya itu. Ia menjelaskan kunjungannya terkait dengan rencana pengembangan Stasiun Jember dengan menambah lahan parkir. 

Namun, ada kendala terkait Jalan Wijaya Kusuma di depan stasiun yang memisahkan lahan parkir saat ini dengan stasiun. Sementara sesuai rencana penambahan lahan parkir akan menyatukan lahan parkir dengan stasiun dengan menutup akses jalan itu. 
“Kita membangun fasilitas parkir di depan Stasiun Jember. Namun, saat ini kami mengalami beberapa kesulitan. Jalan Wijaya Kusuma memisahkan lahan parkir dengan stasiun,” terangnya. Ia berharap dengan bertemu bupati, kendala itu bisa diatasi. 

Menanggapi hal itu, Bupati Jember Faida menegaskan tidak akan membahas jalan masalah itu dalam pertemuan kali ini. Bahkan bupati menekankan perlunya koordinasi sejak awal dalam perencanaan pengembangan itu. “Itu dulu waktu perencanaan mau menutup jalan utama belum minta persetujuan juga sama kita. Jadi untuk itu kita sudah tidak bisa bahas lagi, karena (pengembangan) itu sudah berjalan dan itu akses menuju ke Kodim. Jalan itu tidak kita bicarakan,” tegasnya.
Bupati menjelaskan. Jalan tersebut sudah menjadi akses masyarakat yang sudah ada. “Kita maunya nambah jalan, bukan mengurangi jalan. Andai dulu ada pembicaraan, kita kondisikan di awal, mungkin bisa,” tandasnya. 

Bupati mengungkapkan, pemerintah tidak bisa secara mendadak menutup Jalan Wijaya Kusuma di depan stasiun itu karena belum ada sosialisasi. Penutupan jalan itu juga belum ada di dalam perencanaan. “Belum ada di masterplan Pemkab Jember. Jadi, (penutupan jalan) itu tidak bisa jadi barang yang ditawarkan,” ujarnya. 

Lebih jauh bupati memberikan 10 tawaran yang dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU, memorandum of understanding). Pertama, paket transportasi oleh PT KAI dan city tour oleh Pemkab Jember sebelum dan sesudah perhelatan Jember Fashion Carnaval (JFC). 

Kedua, penambahan gerbong pada setiap momen wisata religi yaitu pelaksanaan manaqib di Ponpes Al Qodiri, 35 hari sekali, yang menyedot puluhan ribu jamaah. 

Ketiga, PT KAI terlibat dalam perencanaan penyelenggaraan transportasi massal yang akan disusun oleh Pemerintah Kabupaten Jember. Salah satunya penyediaan trem antar-kecamatan.

Keempat, menjadikan Stasiun Jember sebagai bagian pembentukan karakter dengan menyajikan musik jalanan kebangsaan, sosialisasi Pancasila, maupun kepahlawanan. Ini juga dengan membina anak jalanan dan pemusik pemula. 

Kelima, PT KAI mengakomodir souvenir dan jajanan yang menjadi produk lokal Jember. “Selain gerbong kereta juga menjadi outlet UMKM Jember,” tuturnya. 

Keenam, liburan sekolah, kai bikin program student tour dengan mengundang pelajar luar jember untuk menikmati wisata edukasi fu jember.

Ketujuh, penyediaan tempat tersendiri bagi rombongan tamu agar tidak mengganggu penumpang umum lain yang telah mendapatkan fasilitas. 

Kedelapan, di Stasiun Jember ada penunjuk terkait even-even tertentu di Kabupaten Jember. Ada petugas PT KAI yang berkolaborasi dengan Pemkab Jember untuk memberikan informasi terkait kegiatan yang terselenggara. 

Kesembilan, PT KAI berkolaborasi dengan Pemkab Jember dalam mengelola CSR (corporate social responbility) atau dana tanggungjawab sosial perusahaan.

Kesepuluh, menyiapkan kursi khusus emergency kepergian pejabat pemerintahan, sama seperti di penerbangan. 

Mendengar pemaparan bupati, Joko Widagdo menyatakan tawaran bupati tersebut secara umum tidak ada masalah untuk ditindaklanjuti. “Bahkan kami sudah mengarah kepada hal tersebut,” jelasnya.

Related posts