News 

Angka Stunting di Jember Cenderung Menurun, Ini Penjelasan Kadinkes

Angka balita dengan kondisi kekurangan gizi kronik, panjang badan atau tinggi badan dibawah standar usia anak secara fisik lebih pendek dibandingkan Balita seumurannya (Stunting) di Kabupaten Jember cenderung mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pemkab Jember, pada tahun 2017 prevalensi stunting di Kabupaten Jember yakni 17.73 persen atau 29.020 balita.  Sedangkan untuk tahun 2018 ini, prevalensi stunting yakni 10.83 persen atau 17.344 balita.

Kepala Dinkes Pemkab Jember, dr Siti Nurul Qomariah menjelaskan, jumlah balita stunting di Kabupaten Jember menurun secara signifikan dibandingkan pada tahun sebelumnya. “Tentu menurunnya balita stunting ini berkat kerja keras yang dilakukan semua pihak, baik dari organisasi perangkat daerah Pemkab Jember maupun masyarakat yang sadar akan pentingnya kesehatan yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, tetangga atau pun dilingkungannya,” terang Kadinkes Siti Nurul.

Dia menambahkan, jika ada informasi yang mengatakan semisal prevalensi stunting di Kabupaten Jember cukup tinggi mencapai 30 persen balita, dipastikan itu data dari kabupaten tertenti di Jawa Timur, dan bukan data dari Jember.

Sementara jumlah balita yang ada di Kabupaten Jember pada tahun 2018 ini yakni sekitar 189 ribu jiwa. Kadinkes Nurul menjelaskan, terkait stunting ini adalah masalah mulai dari hulu hingga hilir, dan ini sebetulnya dari hasil akhir. “Untuk pencegahannya kita telah melakukan beberapa hal, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik itu langsung kepada penderitanya, jadi balitanya itu langsung kita pantau, cek, timbang dan diberikan untuk asupan gizinya. Selain itu ada juga pemberian makanan tambahan (PMT) secara penyuluhan ataupun secara pemulihan,” jelasnya.

Dia juga menerangkan, kalau penyuluhan itu sebulan sekali atau seminggu sekali disaat melakukan kontrol kesehatannya di Puskesmas. Tetapi kalau untuk PMT pemulihan itu diberikan mulai dari 1 hari sampai dengan 3 bulan atau 90 hari makan, dan itu khusus untuk balitanya. Namun jika ibunya masih menyusui maka akan diberikan asupan gizi juga atau vitamin kepada ibu yang menyusuinya.

Demikian juga pada balitanya yang stunting ini kita berikan vitamin juga.

Tetapi ada juga intervensi sensitif dengan melalui program Bupati Jember, dr Faida,MMR yang telah dicanangkan dengan memberikan tablet FE (tambah darah) kepada remaja putri yang bertujuan agar remaja putri ini tidak anemia. Jadi sehingga disaat sudah menikah tidak anemia sehingga rahimnya sehat dan asupan gizinya ke bayi itu sehat. Dia menambahkan, tablet FE ini tidak hanya diberikan pada remaja putri saja akan tetapi untuk pasangan pengantin baru juga diberi 10 tablet FE untuk selama 10 minggu.

Jika sudah begitu hamil rahimnya sudah kondisi sehat dan bayinya pun juga sehat. “Sedangkan untuk ibu yang hamil juga kita beri tablet FE, imunisasi dan pmt,” ujarnya.

Related posts