News 

Begini Penuturan Mbah Wito Hidup Sebatang Kara di Perantaun

Mbah Suwito (82) yang sempat viral di media sosial, karena diusianya yang sudah tidak muda lagi harus tinggal di penampungan Dinas Sosial Kabupaten Bangka Barat, dan ingin pulang ke Jember bertemu cucunya, sehingga postingan tersebut viral dan didengar oleh Bupati Jember dr. Faida MMR.

Hari itu juga, Faida memerintahkan Kades Baletbaru Fauzi Cahyo Purnomo untuk mencari keluarganya dan koordinasi dengan Dinsos untuk melakukan penjemputan. “Saya diperintahkan ibu Bupati untuk mengajak perwakilan keluarga dan dari Dinsos untuk melakukan penjemputan ke Bangka, semua biaya ditanggung Pemkab melalui anggaran di Dinas Sosial,” ujar Fauzi.

Mbah Suwito, meninggalkan Jember pada tahun 1982 melalui program Transmigrasi bersama anak dan istrinya, seiring berjalannya waktu, mbah Suwito mungkin ada masalah dalam keluarganya, akhirnya pulang ke Jember. Tapi tidak lama, kakek yang pernah menjabat sebagai Kepala Dusun di Desa Baletbaru ini kembali ke Sumatra, namun saat itu ia sudah tidak bertemu dengan keluarganya, sehingga tinggal di rumah tetangganya.

Seiring berjalannya waktu, mbah Suwito sampai di Bangka Barat, selama di Bangka, mbah Suwito hidup noaden alias tidak tetap, ia pindah dari desa satu ke desa lainnya yang berjarak puluhan kilo untuk menyambung hidup, dan ini dilakukan selama bertahun-tahun.

“Saya selalu pindah dari desa satu ke desa lainnya, menumpang dirumah warga, selama tinggal saya merawat kebunnya, pokoknya yang kebunnya boleh saya rawat, saya akan tinggal disitu, kadang satu bulan kadang juga dua minggu, setelah itu pindah ke warga lain,” ujar mbah Suwito saat menceritakan perjalanan hidupnya selama di Bangka.
Setelah melanglang buana dari desa ke desa lain, dan menumpang dirumah warga, mbah Suwito akhirnya tinggal di Desa Pelangas Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat dengan bekerja sebagai tukang sapu.

“Waktu tinggal dirumah warga dan diberi kesempatan untuk merawat kebunnya, mencoba untuk menabung dengan menjual bibit cabe untuk sangu pulang ke Jember, tapi tidak pernah kesampaian, karena takut nyasar,” pungkas Mbah Suwito.

Related posts