News 

Cegah Stunting, Mahasiswa KKN Unej Tawarkan Abon Lele

Masih tingginya angka balita penderita stunting di Jember, menjadi perhatian Universitas Jember. Salah satu kontribusi yang dilakukan oleh Kampus Tegalboto adalah dengan menerjunkan mahasiswanya dalam Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik stunting dan sanitasi. Seperti dilansir Humas Unej, Program KKN ini dilaksanakan oleh 280 mahasiswa di 28 desa, dimana 8 desa ada di kabupaten, Jember, serta 10 desa di kabupaten Bondowoso, dan di kabupaten Probolinggo.  Salah satu hasilnya adalah terobosan pemanfaatan potensi ikan lele sebagai Makanan Pendamping-Air Susu Ibu (MP-ASI), seperti yang dilakukan oleh mahasiswa peserta Program KKN tematik stunting dan sanitasi di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember.

Saat melakukan observasi awal, kami menemukan ada 20 balita yang teridentifikasi sebagai penderita stunting di Desa Glagahwero. Sayangnya, angka penderita riel belum kami dapatkan karena Puskesmas setempat juga tidak memiliki data pastinya, ujar Aulifia Nurul, salah satu mahasiswi peserta Program KKN tematik stunting dan sanitasi saat ditemui di Kampus Tegalboto (3/9). Aulifia, begitu panggilan akrabnya, kemudian bersama-sama koleganya mulai melakukan pemetaan masalah dengan melakukan wawancara, dan pengamatan wilayah. Kami menemukan fakta, sebenarnya masyarakat Desa Glagahwero umumnya memiliki tingkat ekonomi memadai, hanya saja mereka kurang informasi terkait makanan bergizi, khususnya MP-ASI apa yang bisa disajikan kepada balitanya, imbuh mahasiswi Fakultas Keperawatan ini.

Sampai kemudian Aulifia dan kawan-kawannya mendapatkan informasi bahwa beberapa warga di Desa Glagahwero memiliki usaha kolam lele, termasuk sang kepala desa. Kami lantas berusaha memanfaatkan potensi desa yang ada, akhirnya tercetus ide mengapa tidak memanfaatkan ikan lele yang kaya protein sebagai sumber makanan bergizi, apalagi mudah didapatkan di lingkungan desa, urai Aulifia yang mengikuti KKN selama 45 hari bersama sembilan koleganya. Produk abon lele tersebut diberi merk LEGO, singkatan dari Lele Glagahwero yang dipamerkan dalam kegiatan bertajuk Expo dan Lomba Produk KKN Kabupaten Jember-Probolinggo yang dilaksanakan hari Minggi pagi di jalanan depan UPT Perpustakaan Universitas Jember (2/9).

Pilihan Aulifia Cs menjadikan lele sebagai MP-ASI bukan tanpa alasan, menurut mahasiswi angkatan tahun 2015 ini, daging lele yang lebih lembut dibandingkan ikan lainnya lebih memudahkan bagi balita untuk mencernanya. Selain itu tentu saja karena kandungan protein yang tinggi, dan harga ikan lele cukup terjangkau. Cuman untuk pembuatannya memang memerlukan keterampilan tersendiri agar hasilnya enak dan mirip abon pada umumnya. Kami sudah memberikan pemahaman dan dorongan kepada ibu-ibu warga Desa Glagahwero agar berani mengambil peluang pembuatan abon lele. Tujuannya, balita mendapat asupan gizi yang baik, sekaligus menambah penghasilan keluarga, pungkas Aulifia.

Sementara itu menurut Hermanto Rahman, koordinator Pusat Pemberdayaan Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember, kegiatan Expo dan Lomba Produk KKN ini adalah salah satu bentuk akuntabilitas, menumbuhkan kebanggaan bagi mahasiswa peserta Program KKN yang telah bekerja keras membina warga desa, sekaligus mengenalkan produk-produknya kepada masyarakat luas. Hari Minggu ini semua kelompok KKN di Jember dan Probolinggo memamerkan produknya dari KKN tematik stunting dan sanitasi, tematik desa tangguh bencana, tematik desa wisata dan wirausaha sejahtera, serta tema lainnya yang hadir akan kita lombakan. Khusus untuk kegiatan Expo dan Lomba Produk KKN Kabupaten Bondowoso telah dilaksanakan di alun-alun Bondowoso tanggal 19 Agustus lalu, jelasnya.
Beberapa produk Program KKN lainnya yang ditampilkan dalam kegiatan Expo dan Lomba antara lain batik Maronggi yang merupakan batik khas dari Desa Pocangan, Kecamatan Sukowono, Jember. Kami berusaha membantu pemasaran batik motif Maronggi atau motif daun kelor dengan cara memanfaatkan media sosial, juga membuatkan laman resmi yang memperkenalkan batik khas Desa Pocangan lainya seperti motif tembakau, kopi dan buah coklat. Kami juga merintis Desa Pocangan sebagai desa wisata, dengan andalannya destinasi wisata bercocok tanam, dan lokasi latihan olah raga sepeda motor trail, jelas Sri Wulan Nawangsari peserta Program KKN tematik desa wisata dan wirausaha sejahtera dari Fakultas Teknologi Pertanian.

Sementara itu M. Ridzqal dari Fakultas Ilmu Komputer bersama kawan-kawannya yang melaksanakan Program KKN tematik Desa Teknologi Informasi dan Komunikasi di Desa Pohsangit Leres, Kecamatan Sumber Asih, Kabupaten Probolinggo memamerkan inovasi laman desa yang berisikan sejarah, data, informasi, serta potensi desa. Alhamdulillah, banyak suka dukanya dalam menyusun laman desa, pasalnya masih banyak perangkat desa yang belum sadar manfaat teknologi informasi dan media sosial untuk mendukung pembangunan desa. Bikin laman desanya hanya butuh waktu dua minggu, tapi untuk menggali data dan informasi kepada perangkat desa itu yang jauh lebih susah, butuh kesabaran dan ketelatenan untuk melakukan pendekatan kepada perangkat desa, cerita Ridzqal mengingat pengalamannya saat mengikuti Program KKN. (iim)

Related posts