News 

Diberi Seragam, Becak Dipermak, Tukang Becak di Jember Tampil Milenial

“Tukang becak ini patut kita hargai, karena mereka tidak berpangku tangan, tetap bekerja, tetap berguna, dan mencari nafkah untuk keluarga,” kata Bupati Jember, dr. Faida, MMR.

Hal ini disampaikan bupati saat bertemu sekitar 1.215 tukang becak dalam Kongres Abang Becak yang berlangsung di Aula PB. Soedirman Pemkab Jember, Senin, 23 Desember 2019.

Kongres, lanjut bupati, digelar untuk memantau keadaan tukang becak dan keluarganya. Sekolah anak-anaknya, adminduk mereka, dan kondisi ekonominya.

“Utamanya soal becak mereka,” terang bupati. Karena di Jember ada program untuk becak-becak yang sudah rusak dan kuno direnovasi menjadi becak wisata yang aman.

Jika dulu becak tidak ada lampu untuk malam hari maupun tidak ada tempat menyimpan barang, kini itu semuanya dibenahi.

“Dan, tukang becak diberi seragam, jas hujan, sepatu, dan topi. Supaya tukang becak di Jember punya identitas,” ungkap perempuan pertama yang menjadi Bupati Jember ini.

Dalam kongres itu sekaligus untuk memberikan asuransi kesehatan untuk tukang becak di Jember.

Sesuai data yang ada, kurang lebih dua ribu tukang becak. Tetapi, baru tuntas bantuannya untuk 1.215 tukang becak.

Paling penting, tandas bupati, harus dipastikan bahwa seluruh anak tukang becak ini bisa melanjutkan sekolah. Minimal lulus SMA atau SMK.

“Karena kita ada komitmen dengan tukang becak untuk mendukung anak-anaknya tetap bersekolah. Sampai saat ini ada 42 mahasiswa anak tukang becak yang mendapatkan beasiswa dari Pemkab Jember,” ungkap bupati.

Selain itu, tukang becak di Jember yang rumahnya masih berlantai tanah, tidak layak huni, maka pemerintah akan membantu untuk merehabnya. Setiap orang bakal mendapat bantuan sebesar Rp. 17,5 juta untuk membenahi rumahnya.

Lebih jauh bupati menjelaskan target pemerintah untuk angkutan becak di Jember. “Kenyataannya, becak ini masih diperlukan untuk angkutan orang, anak sekolah jarak dekat, karena tidak semua jalur lalu lintas umum,” tuturnya.

Tukang becak yang tidak mungkin lagi menempuh jarak jauh dengan tenaga manusia, lanjut bupati, arahkan di jalur-jalur wisata dengan becak yang telah diperbaiki.

Sementara tukang becak yang masih muda diarahkan untuk bisa berwirausaha di luar tugasnya sebagai tukang becak.

Target ke depan, semua tukang becak di Jember tuntas adminduknya. Seperti KK dan KTP, termasuk yang belum punya buku nikah. “Dan kita akan menggandeng agen perjalanan wisata untuk mengemas para tukang becak menjadi transportasi di tempat-tempat wisata,” ujarnya.

Selain untuk meningkatkan status ekonominya, program pemerintah dilaksanakan juga untuk membina tukang becak agar lebih mengetahui lalu lintas.

“Karena banyak juga kecelakaan lalu-lintas diakibatkan tukang becak tidak mengetahui rambu-rambu lalu lintas,” kata bupati.

Pemkab Jember bersama Dinas Perhubungan Jember dan Satlantas Polres Jember memberikan pengetahuan rambu-rambu lalu lintas kepada tukang becak. Setiap tahun pengetahun tukang becak tentang rambu lalu lintas diperbaharui.

Related posts