News 

Gus Aab dan KH Muhyidin Pimpin PCNU Jember

KH Abdullah Syamsul Arifin kembali terpilih sebagai Ketua PCNU Jember masa khidmah 2019-2024 dalam Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama Jember di kampus Universitas Islam Jember (UIJ), Ahad (28/7). Dalam sesi pemungutan suara di tahap pencalonan, pengasuh Pondok Pesantren Darul Arifin tersebut mengantongi 262 suara, disusul Kiai MN Harisudin (Katib Syuriyah PCNU Jember) dengan 68 suara, dan di posisi ketiga ditempati KH Firjoun Barlaman (putera KH Ahmad Siddiq) dengan 29 suara. Sedangkan sisanya dibagi untuk beberapa nama yang muncul tak terduga. Angka yang diperoleh Gus Aab, sapaan akrabnya, sudah melebihi 50 plus 1 persen dari total peserta yang mempunyai hak suara sebanyak 374.

“Sesuai dengan tatib (tata tertib pemilihan), maka perolehan suara calon yang mencapai 50 plus 1 persen dari total pemilik hak suara, ditetapkan sebagai pemenang,” tukas pimpinan sidang , Muhammad Qoderi seperti dilansir NU online.

Sebelumnya dalam pemilihan rais syuriyah dengan sistem AHWA, KH Muhyiddin Abdusshomad mendapat suara terbanyak dari 5 ulama yang dipilih AHWA. Meski sebelumnya, saat memberikan sambutan, Kiai Muhyiddin sempat melontarkan keinginannya untuk ‘istirahat’ dari kepengurusun PCNU Jember namun nyatanya keinginan peserta tidak bisa dibendung.

Dengan demikian, duet Gus Aab- Kiai Muhyiddin tetap lestari, memimpin NU Jember untuk periode ketiga kalinya berturut-turut.

Yang menarik, saat pimpinan sidang menanyakan kesediaan Kiai Muhyiddin untuk ‘menerima’ Gus Aab sebagai ketua NU Jember, ia menegaskan bahwa dirinya bersedia atau setuju Gus Aab menjadi ketua PCNU Jember asalkan dia tunduk dan patuh terhadap instruksi syuriah.

“Saya bersedia Gus Aab sebagai ketua PCNU Jember asalkan patuh kepada syuriyah, tidak berseberangan dengan keputusan syuriah,” tukasnya.

Permintaan Kiai Muhyiddin itu kemudian direspon oleh Gus Aab dengan menyatakan kesediaannya untuk mematuhi segala instruksi dari rais syuriyah.

“Saya siap tunduk dan patuh terhadap keputusan rais syuriyah karena saya hanya sebagai pelaksana,” jawabnya singkat.

Dalam pemilihan ketua NU, kesediaan rais syuriyah terpilih untuk menerima calon ketua NU, merupakan syarat yang tidak boleh ditawar. Jika rais syuriyah menerima, maka sang calon bisa lanjut. Jika tidak menerima, maka si calon tidak bisa berbuat apa-apa berapapun perolehan suaranya.

Related posts